Terakhir diperbarui: 30 September 2026.

Ilustrasi seseorang memeriksa kabar digital dengan ponsel dan laptop
Ilustrasi dibuat dengan AI menggunakan OpenAI ImageGen.

Pesan yang tampak resmi belum tentu benar. Pada 24 September 2026, beredar dokumen yang mengklaim internet nasional akan dimatikan selama tiga hari. Komdigi menyatakan dokumen itu palsu dan tidak ada rencana pemadaman; ANTARA juga melaporkan bantahan tersebut.

Kasus itu mengingatkan kita untuk memeriksa kabar sebelum meneruskannya. Panduan cara cek hoaks digital berikut bisa dipakai untuk pesan WhatsApp, unggahan media sosial, tangkapan layar, foto, maupun video.

1. Berhenti sebentar sebelum membagikan

Pesan yang mendesak—misalnya meminta segera meneruskan kabar, mengklik tautan, atau mengisi data—sering membuat orang bertindak tanpa memeriksa. Jangan teruskan dulu. Simpan pesan atau tangkapan layarnya, lalu periksa klaimnya dengan tenang.

2. Pisahkan klaim utama dari opini

Tuliskan inti kabar dalam satu kalimat yang bisa diuji. Contohnya: “Internet nasional akan dimatikan pada tanggal tertentu.” Hindari menilai dari judul yang sensasional atau komentar pengirim. Klaim yang spesifik lebih mudah dicari dan dibandingkan dengan keterangan resmi.

3. Cari sumber pertama, bukan hanya akun yang meneruskan

Periksa siapa yang pertama kali menerbitkan informasi. Jika kabar mengatasnamakan kementerian, bank, sekolah, atau perusahaan, buka situs dan akun resmi lembaga itu secara mandiri. Ketik alamat situs sendiri atau cari nama lembaga melalui mesin pencari; jangan mengandalkan tautan di pesan yang belum terverifikasi.

Logo, kop surat, nomor surat, tanda tangan, dan foto pejabat dapat disalin atau dipalsukan. Semuanya bukan bukti tunggal bahwa dokumen itu asli. Cari pengumuman pada kanal resmi dan cocokkan judul, tanggal, nomor, serta isi pesannya.

4. Bandingkan dengan beberapa media tepercaya

Untuk kabar penting, cari liputan dari dua atau lebih media yang memiliki redaksi sendiri. Pastikan mereka benar-benar melaporkan peristiwa itu, bukan menyalin unggahan atau rilis yang sama. Jika kabar besar tidak muncul di kanal lembaga terkait maupun media tepercaya, perlakukan sebagai belum terverifikasi—bukan otomatis benar.

5. Periksa tanggal, lokasi, dan konteks

Berita atau foto lama bisa dibagikan ulang seolah-olah baru terjadi. Perhatikan tanggal publikasi, lokasi, nama pihak yang disebut, dan peristiwa yang sedang dibicarakan. Cari frasa kunci dalam tanda kutip untuk menemukan pemberitaan atau klarifikasi terdahulu. Pastikan hasil yang ditemukan memang menjawab klaim yang sama.

6. Telusuri foto dengan Google Lens

Jika pesan menyertakan foto, lakukan pencarian gambar terbalik. Google Lens dapat mencari gambar serupa dan halaman web yang memuatnya. Hasilnya bisa membantu menemukan unggahan lebih lama atau konteks aslinya.

Di Google Search, fitur “About this image” juga dapat menampilkan kapan gambar serupa pertama kali ditemukan dan bagaimana situs lain menggunakannya, jika informasi itu tersedia. Google menjelaskan cara kerja fitur tersebut. Hasil pencarian bukan vonis keaslian: gambar yang tidak ditemukan belum tentu asli, dan metadata dapat berubah atau hilang.

7. Cari pemeriksaan fakta yang sudah tersedia

Ketik klaim atau nama tokoh ke Google Fact Check Explorer untuk mencari artikel pemeriksaan fakta dari penerbit yang tercakup di sana. Baca isi pemeriksaannya, tanggal, sumber, dan alasan penilaiannya. Tidak munculnya hasil bukan bukti bahwa klaim benar; belum tentu klaim itu pernah diperiksa.

Bagaimana jika foto atau video diduga dibuat AI?

Jangan mengandalkan satu ciri visual, seperti tangan yang tampak aneh atau tulisan yang berantakan. Gambar dapat diedit, dikompresi, atau dipotong sehingga tanda-tanda itu tidak konsisten. Gunakan pencarian gambar, periksa sumber pertama, dan cari konfirmasi independen. Alat pendeteksi AI juga tidak selalu dapat memastikan asal setiap gambar.

Untuk langkah aman saat beraktivitas di media sosial, baca juga panduan menghindari oversharing dan menjaga keamanan akun. Jika hendak menerbitkan konten, pastikan sumber serta konteksnya jelas; panduan membuat konten Instagram yang menarik dan bertanggung jawab dapat menjadi bacaan lanjutan.

Jika belum yakin, jangan teruskan